Forum ANIMAC saat ini sedang dalam proses pembaharuan.
Silakan lakukan aktivitas forum seperti biasanya.
Tampilan dan logo sementara masih default phpBB3.

Post Fanfic!!

buat yang pinter gambar atau artwork lainnya bisa tunjukin disini, Kamu juga bisa tunjukin gambar karya teman kamu atau karya orang lain. juga tulisan Fanfic kamu... (^-^)
User avatar
mide-chan
Member Super Aktif Animac
Member Super Aktif Animac
Posts: 422
Joined: Sun Oct 10, 2010 11:23 am
Location: Pondok Rahayu Lantai 2
Contact:

Re: Post Fanfic!!

Postby mide-chan » Thu Jan 06, 2011 4:54 pm

sebenarnya aku juga gak tahu alasan kenapa aku nulis, karena tertantang, suka apa memang pingin jadi pro :omg:

aku cuman 2 hari sih, tapi langsung depresi :cry2: kayak bukan tempatku, tapi aku memang pingin jadi editor, tapi kenapa rasanya capek banget ada di sana #curcol


Spoiler: The Ultimate Fandoms & anime list show
The Ultimate Fandoms

Image

My Anime List

Image

User avatar
Arudo_shiroganE
Member Super Duper Aktif Animac
Member Super Duper Aktif Animac
Posts: 850
Joined: Sun Sep 26, 2010 7:48 pm
Location: Dojima's Residence, Inaba

Re: Post Fanfic!!

Postby Arudo_shiroganE » Fri Jan 07, 2011 11:44 pm

wew, brarti waktu SMA kita seangkatan, loh :lol:
Tugas dah selse!! :banzai:
saat nya nerusin perjuangan Ghlit :kukuku:


Image
*DIBACA KU-I-YEN!! BUKAN KUIIIN!!*
Spoiler: ga taw ROZALIN kbangetan!! Buka neh!! show
Image

User avatar
mide-chan
Member Super Aktif Animac
Member Super Aktif Animac
Posts: 422
Joined: Sun Oct 10, 2010 11:23 am
Location: Pondok Rahayu Lantai 2
Contact:

Re: Post Fanfic!!

Postby mide-chan » Sat Jan 08, 2011 9:54 pm

Ar wrote:saat nya nerusin perjuangan Ghlit

semangat :cheers2:
sambil mencoba menyemangati diri sendiri :dead:


Spoiler: The Ultimate Fandoms & anime list show
The Ultimate Fandoms

Image

My Anime List

Image

User avatar
mitsurugireiji
high level - junior animac
high level - junior animac
Posts: 48
Joined: Fri Jun 24, 2011 10:41 pm
Location: Minato, Tokyo
Contact:

Re: Post Fanfic!!

Postby mitsurugireiji » Sun Jun 26, 2011 9:39 am

ng... permisi...
saya anggota baru, mohon bantuannya.
izin gabung dalam komunitas fanfic di sini :)
.
mohon maaf kalau postingannya agak kurang penting *buagh duagh*


Tooku made, hashitta tsumori de, furikaereba soko ni. Boku ga kobosu yume no kakera wo hiroi azumeru kimi ga ita. Daiji na mono, nakusanai de ne to, sotto tewatasarete. Tsukare kitta boku no kokoro ga, "sa, yukou!" to tsubuyaku.

User avatar
Arudo_shiroganE
Member Super Duper Aktif Animac
Member Super Duper Aktif Animac
Posts: 850
Joined: Sun Sep 26, 2010 7:48 pm
Location: Dojima's Residence, Inaba

Re: Post Fanfic!!

Postby Arudo_shiroganE » Mon Jun 27, 2011 8:24 pm

Eeeeee.... bukan fanfic seh... tp silahkan dibaca :pushup:
Boku no new work! :sm:

http://www.kemudian.com/node/256393
Last edited by Arudo_shiroganE on Mon Jun 27, 2011 8:26 pm, edited 1 time in total.


Image
*DIBACA KU-I-YEN!! BUKAN KUIIIN!!*
Spoiler: ga taw ROZALIN kbangetan!! Buka neh!! show
Image

User avatar
mitsurugireiji
high level - junior animac
high level - junior animac
Posts: 48
Joined: Fri Jun 24, 2011 10:41 pm
Location: Minato, Tokyo
Contact:

Re: Post Fanfic!!

Postby mitsurugireiji » Mon Jun 27, 2011 8:40 pm

kerjaan lama, udah complete. fanfic bleach, twoshots. tapi sangat mengharapkan reviews (terutama concrit, hehehe)
warning selengkap-lengkapnya ada di ceritanya, jadi, silahkan dibuka :)

http://www.fanfiction.net/s/6708511/1/Poinsettia

happy reading!!


Tooku made, hashitta tsumori de, furikaereba soko ni. Boku ga kobosu yume no kakera wo hiroi azumeru kimi ga ita. Daiji na mono, nakusanai de ne to, sotto tewatasarete. Tsukare kitta boku no kokoro ga, "sa, yukou!" to tsubuyaku.

User avatar
rokushou
Guardian of Verdant Gate
Guardian of Verdant Gate
Posts: 2048
Joined: Fri Sep 24, 2010 7:47 am
Location: hidden behind the shadow of the green leaves, deep below the depth of the blue ocean

Re: Post Fanfic!!

Postby rokushou » Mon Jun 27, 2011 10:10 pm

Kirei na Hoshizora ~ A Beautiful Starry Sky

http://www.mediafire.com/?hayrypdilrxa1c1

ini fics buatan Aniki saya Mibuchiha. well, gw kadang jadi proofreadernya. Ceritanya bagus, udah hampir tamat, tiap chapter ngasih kesan yang berbeda (perasaan saya kayak nonton clannad, hanya saja dalam level yang lebih kecil). Very Reccomended to read.


"10-verse Aria of Shirou Emiya's Unlimited Blade Works is among the shortest for potentially Strategic-class thaumaturgy invocation that is able to be cast by human. The act of defining the trait of self to invoke the mystery is believed to be the root of this anomaly. It is also theorized that what UBW does is "just" manifesting what's already in Shirou's soul to the realm of Gaia, hence less strain on his Circuits. While projected into the reality plane, UBW makes the Swords that previously is degraded by a rank no longer affected by Gaia's Correction of Wrongness, making it's possible to project 10 Ragnaroks or 10 Surtrs without losing their rank, making it to A+ bordering EX attack to emphasize the meaning of overkill to Shirou's opponent."
- Rokushou's incoherent rambling of Nasuverse #1

User avatar
Chinami-chan
Animac Junior
Animac Junior
Posts: 17
Joined: Sat Oct 05, 2013 11:06 pm
Location: Tokyo
Contact:

Re: Post Fanfic!!

Postby Chinami-chan » Mon Oct 14, 2013 3:52 pm

Ohayyoou Minnaa-saann... :love: :wink:
:D Kali ini aku membuat fanfic :oops: :oops: entahlah gimana cerita ini aku juga bingung :? :lol: :P
Mohon, kritik dan sarannya.. :oops: :lonely: maklum aku pemula.. :maf: :twisted:
JUDUL : I'M A COOL BOY
CAST : Sasuke :love: , Chizu, Sakura dan Naruto
GENRE : Lebih baik minna-san tentukan sendiri

Dicerita ini Kamu akan melihat Sasuke yang berbeda.. :lol: :lol: haha entahlah apakah cocok aku juga gk tau... :P Haik..!! :wisuda: :ai: ini dia... I'M A COOL BOY

#At The famous Senior High School at Tokyo :!:

:o Waahh Ada Sasuke Angel yang paling baik hati :love: :love: :love: “ itulah teriak para gadis-gadis itu memanggilku. Mereka memanggilku Sasuke Angel. :shock: Apa-apaan itu sejak kapan seorang Sasuke yang cool sepertiku dipanggil malaikat, :aty: itukan beda sekali dengan image-ku :!: , padahal selama 9 tahun ini aku selalu dianggap cool dan semua orang mengagumiku :gar: , bukannya sombong tapi itu adalah kenyataan :idea:
Hai kenalkan namaku Sasuke Uchiha, 8) aku baru menyelesaikan masa SMP ku, artinya aku sudah tak bersama Naruto yang menyebalkan dan terlebih Sakura, Err.. :hee: Cewek yang sok PD yang selalu mendekatiku.. :onegai: AHH sudahlah aku malas membahas gadis yang berdahi nonong dan payah itu. :|
Seperti biasa aku ini pintar dan selalu mendapat Urutan 1 8) , aku menikmati sekolah disini, tapi ada satu hal… “yak..!! Sasuke Angel !! kenapa kau tak menungguku :o , seharusnya sebagai seorang malaikat kau harus membantu tuan putri!” ucap seorang gadis yang menarikku tiba-tiba. -.-? :o apa katanya?? Apa seorang sasuke cool sepertiku tidak salah dengar, menunggunya? Sejak kapan seorang Sasuke pernah menunggu seseorang :x , dan kalimat terakhirnya aku tak salah dengarkan? Tuan putri? Sejak kapan gadis bodoh seperti dia menjadi tuan putri.. ternyata selain sakura masih ada yang lebih gila.. :dead: APA-APAAN ini.. huuch.
Akupun menghentikan langkahku dan menoleh padanya dengan wajah datarku, :maf: pertanda ingin meminta penjelasan, ya.. gadis inilah orang yang menyebarkan nama panggilan Angel itu, aku sangat menyesal seharusnya waktu di kereta aku tidak membantunya ,gara-gara dia image-ku jadi tidak sesuai :( .
“terimakasih telah menungguku :love: ” ucapnya dengan wajah yang menyebalkan, :shock: bisa-bisanya dia menunjukkan tampang polosnya saat aku kesal seperti ini .
“Hei Sasuke Angel sepertinya kau harus selalu berada disisiku.. :D
:( A.. APAA??!!” aku berteriak kuat, :? tuh kan aku sudah tidak terlihat cool lagi berteriak-teriak seperti ini, nanti apa tanggapan yang melihat dan mendengar teriakanku itu.
“Yak..!! kenapa? ? Kau keberatan..?? kamu bilang kamu malaikat :huh: ?! :) Memang ada malaikat yang tidak mengabulkan permintaan Princess.. :XD: :x pokoknya aku tidak mau KAU HARUS MENURUTI KATA-KATAKU” gadis itu menarik tanganku dengan paksa setelah berteriak kuat tepat dihadapanku.
Entah dorongan apa yang membuatku tak mengelakkan diri, kenapa gadis ini begitu kuat dan bodoh sih..
“waahh ada sasuke Angel bersama Chizu… :love: :love: :love: sennnaangggnyaa,,, aku juga mau bersama Angel dong :love: :love: ” ucap beberapa orang yang sibuk pulang melihat kami dengan adegan aneh ini.
“Konichiwa Minna-san.. :wink: :wink: :idea: Hei semua Kenalkan.. Sasuke Angel ini adalah Angelku satu-satunya jadi jangan ada yang mengambilnya lagi… :idea: Mengerti?!” Gadis itu memegang tanganku erat lalu memamerkanku sesukanya, aku tak bisa berteriak apalagi di hadapan public seperti ini. :dead:
“Wahh chizu.. jangan egois seperti itu dong.. Malaikat itukan milik bersama :| ” ucap seorang gadis yang berani mencolek pipiku. :o TIDAAKKK :? :cry: lama-lama aku bisa mati disini :lonely: .
“Beraninya KAU menyentuhnya… :shock: kau harus menghadapiku sebelum menyentuh Malaikatku.. Ayo.. sebaiknya kita pulang.. tempat ini tidak aman bagi princess dan Angel seperti kita disini” Lalu ia membawaku keluar dari kerumunan itu, hingga sampai di luar gerbang sekolah Tokyo nan megah itu.
“LEPASKAANN “ aku melepaskan amarahku yang dari tadi ingin meledak.
:oops: Waahh apa malaikat ingin mengabulkan permohonanku :D ?” :shock: ia bertanya dengan wajah yang begitu membingungkan tepat dihadapanku, apa dia tidak tahu aku marah besar.. oh tuhan apa yang salah dari gadis ini.?
“SA-SSU..-KKkee… :are: :stress: ” tiba-tiba ada suara yang memanggilku dengan nada yang tak jelas seolah-olah ia tak memiliki nafas lagi untuk dapat memanggilku, aku dan gadis payah yang dihadapanku inipun menoleh kearah pemilik suara itu.
“Hai Sasuke-kun.. siapa gadis ini apa dia pacarmu? :D ” Tanya seseorang dengan lantang melangkah kehadapan ku, dan aku menoleh kesamping lelaki itu, berdiri seorang gadis yang terlihat patah semangat :dead: tapi aku tak mau peduli tentangnya dan apa yang dia lakukan disini.
Yah, siapa lagi laki-laki dan wanita yang selalu mencariku kemana-mana kalau bukan :| Naruto dan Sakura, padahal jarak sekolahku dan sekolah mereka sangat jauh, bisa-bisanya mereka dating kesini :twisted: .
“Hai.. juga.. :wink: Sasuke adalah Angelku, jadi kalau ingin bicara kau harus permisi pada ku dulu :oops: ” ucap chizu lantang dengan PDnya.
“Apa? :shock: Yak.. jangan seenaknya bicara seperti itu..!!” aku berteriak seperti anak kecil :x .
“kenapa.. ? Sasuke malu kalau orang-orang tahu semua tentang kita.. :oops: Ayolah.. dari sekarang Sasuke harus membiasakan diri, :D mengerti..!?” Ughh... gadis ini,, !! :dead: dia tidak tau aku marah,!? Kenapa dia masih bisa menunjukkan tampang polosnya dengan mengelus kepalaku. DAASSSAARR GADIS MENYEBALKAANN… :cry:
“waahh.. kalian romantis sekali.. :oops: Heii Sasuke-kun.. aku juga sudah pacaran dengan Sakura :) ” Ucap Naruto menarik lengan Sakura, aku langsung menoleh kearah Sakura tak percaya. 8)
Tapi saat kami bertemu pandang Sakura langsung menepiskan tangan Naruto lalu menarik kerah baju chizu. :x “A-apa yang kau Lakukan… :mexicanx: ?” chizu tampak terbata-bata saat Sakura mengeluarkan amarahnya, karena kasihan pada Chizu, aku mendorong Sakura untuk tak menyentuh chizu.
“Jangan menyentuh gadis ini :!: ” ucapku mendorong Sakura.
“Sa-ssuke-kun.. KA-U.. :shock: :cry: :cry: “ gadis dengan rambut pink itupun berlari :pssedmode: dengan meneteskan air matanya seola-olah dia tidak percaya aku melakukan itu. Yah.. bahkan aku sendiri juga tidak tau kenapa aku selalu menolong gadis ini, padahal gadis inilah yang paling ingin KUSINGKIRKAN dari muka bumi ini. :?
“eh.. SA.. SAKURA-CHAANNN..” reflex si Naruto jelek itupun mengejar kekasihnya Sakura.
Huff.. aku menarik nafas dan menutup mataku :recard: mencoba tak mau peduli, eh tunggu dulu, gadis ini tadi bukankah takut dengan Sakura, tapi kenapa aku harus menuruti gadis yang paling payah ini, dengan perlahan aku membuka mataku.  “Arigattou.. Sasuke Angel kau selalu membantuku.. :2good: ” Ucapnya senang. Tapi aku malah tersenyum saat dia mengucapkan terimakasih seperti anak TK yang berumur lima tahun.
Yakk.. :o kenapa lagi denganku.. Err.. aku menggelengkan kepalaku untuk tak bersikap konyol.
“Hei.. aku ingin bilang sesuatu..!! Seba-“ Cupp.. tanpa aku tahu ia tiba-tiba mengecup bibirku, lalu berlari.. :shock: :? “jangan sekarang aku sama sekali belum siap mendengarnya.. :oops: Sayonaara My Sasuke Angel :D ” ucapnya dengan wajah yang tak bersalah.
Tubuhku membeku seperti Es.. kenapa aku seperti dihipnotis oleh gadis itu.. T :o :dark: IIIDDAAKK MUNGKINN… Sasuke tidak pernah Terlihat seperti orang BODDOOHH… Ahh.. :sob: Oka-saannn Tolong akuu.
SIALAN!! Apa maksudnya?? :twiching: Apa maksudnya dia pikir aku ingin bilang suka.. Beraninya dia… mengecup bibirku.. . sungguh gara-gara dia aku jadi tak bisa konsentrasi.. :x aahhh Sasuke Kau harus focus lupakan gadis bodoh itu.
Entah yang keberapa kalinya aku menggaruk-garuk kepala ku..
“Sasu-chan.. kau kenapa sayang?” Tanya seorang wanita lembut menanyaku.
“err.. AHH.. Err.. Ahh.. tidak,, haha, aku tidak apa-apa?” aku begitu kikuk saat mama tiba-tiba menghampiriku.
“Kau tidak seperti biasanya..” ucap mama mengelus rambutku.
“ha?? Mama bicara apa.. Aku tetap Sasuke yang COOL.. dan Pahlawan Mama.. 8) :D ” ucapku mencoba tegar.
“Benarkah.. ?” Tanya mama memastikan sesuatu dengan melirik sebuah benda.
“Haikk :wink: ” jawabku cepat lalu memandang kearah yang mama lihat.
“Arrgghh… “ aku langsung bingung untuk menjawab sesuatu, itu adalah bubur yang sama sekali belum kusentuh, biasanya bubur itu dalam lima detik akan habis.
“Kau jangan bohong Sasu-chan,, Mama paling mengerti kamu.. apa sasu-chan merindukan Sakura?” Tanya mama yang membuatku berdiri tidak setuju namun wajahku tetap saja memerah.
“Mama bicara apa..?? :dead: kenapa aku harus merindukannya?” Teriakku tak setuju yang berhasil membuat mama tersenyum geli.
“Sasuke-chan.. apakah ini anakku yang cool.. akhir-akhir ini kau sering melamun, jadi mama pikir kau selalu merindukan Sakura” Ucap mama dengan geli
“mama jangan seenaknya bicara dong… aku sama sekali tidak menyukai Sakura, :| ada gadis yang lebih menarik dari dia, :oops:
“Benarkah.. siapa? Jadi Sasuke mama sedang jatuh cinta ya.. oh pantas sasu-chan mama sering melamun..!” ucap mama dengan mengekspresikan kata-katanya.
A.. aku bicara apa sih.. :o aku kan sedang tidak menyukai siapapun. “ahh.. itu.. aku..” aku mencoba memberikan alas an.
“Baiklah.. kenalkan mama siapa gadis itu.. pasti dia jauh lebih cantik dari Sakura” ucap mama, lalu bergegas.
“Ahh.. Mama.. itu sama sekali tidak benar..”
Yakk.. apa yang kupikirkan sih.. :lonely: :? apa aku memang menyukai gadis itu.
Keesokan Harinya
Seperti biasa aku naik kereta ke sekolah, aku memandang di sekelilingku :cute: :omg: , huff namun taka da sosok yang ku cari, kenapa aku menunggunya aku juga tidak tahu, yahh.. aku bodoh.. :x Sasuke BAKA!! Ayolah.. kembali ke wujudmu yang semula.
“YAK….. Sasuke Angel menungguku… :D ” seseorang yang dengan lantang menepuk punggungku,” ha? Me- Menunggu?, :x S-siapa yang menunggumu..” jawabku mengelak
“tadi aku liat lo.. :oops: Sasuke Angel mencari sesuatu.. aku sudah terlambat syukur saja ada Angel yang menungguku”
“SIAPA JUGA YANG MENUNGGUMU… :| aku kan hanya ingin memperhatikan di sekitarku” jawabku cepat
“benarkah tapi ini sudah pukul 8.10, :huh: apa Sasuke angel akan memperhatikan orang-orang itu lalu berangkat ke sekolah.. :love: Kyyaa… Sasuke memang seorang Angel yang baik hati. :) .” ucapnya dengan bangga.
“BAKA.. :sob: Aku menunggumu..!! gara-garamu aku JADI TERLAMBAT :x ” dengan cepatnya kata-kata itu keluar dari mulutku dan saat itu juga pipiku merah padam saat melihat wajah kaget dari gadis yang memiliki tubuh mungil dihadapanku ini.
“Ahahah… :oops: aku tau kau seorang Angel.. :!: tapi kau juga tak harus menungguku jika sudah terlambat, seharusnya kau menyelamatkan dirimu dulu lalu orang lain :oops: ” Ucapnya lalu melangkah meninggalkanku yang masih berdiri diam tanpa 1000 bahasa.
Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku, :maf: lalu melangkah di belakangnya. 8.20 pukul ini orang-orang sudah sepi, jadi kami bisa duduk di kereta di ruangan ini hanya ada lima orang penumpang.
Aku duduk tepat di hadapan gadis yang bernama chizu itu. Entah kenapa aku jadi tak bisa tenang :quiet: dan tak tahu harus memandang ke arah mana, aku begitu salah tingkah, :dead: sekarang image cool itu benar-benar jauh dari ku. Kenapa aku begini, :? padahal gadis itu begitu tenang. Akupun memejamkan mataku :recard: , lalu mebukanya perlahan, aku mencoba memandang kearah luar namun, aku tertarik memperhatikan chizu yang sedang asyik membaca komik, dia selalu menyempatkan diri membaca komik saat-saat waktu yang sedikit ini. Dia Cantik juga :huh: , dan senyumnya sangat manis, :love: apa dia begitu bahagia saat membaca buku itu Glekk.. dengan cepat aku memandang kearah lain :stress: , rasanya aku begitu kelihatan salah tingkah.
“Kau kenapa Sasuke Angel.. apa kau ingin membaca komikku? :D ” tanyanya datar.
“Err.. yah? A.. aku tidak pernah tertarik dengan yang namanya komik, orang yang baca komik itu terlihat seperti orang bodoh 8) ” jawabku kasar tapi dia malah tertawa, dasar gadis aneh seharusnya dia sakit hati.
:lol: :XD: Kau pasti akan menyukainya kalau kamu mengerti membacanya.. :lol: hahaha.. dasar Angel aneh :P ” Egghh.. :shock: Aneh? Sekarang dia sudah berani menyebutku dengan sebutan aneh.
“Ayo kita sudah sampaiiii…. :wink: .” ucapnya senang.
#Sesampai di kelas
:x APA-APA AN kalian jam segini baru datang sekolah?!”
Yah.. dapat hukuman dari guru itu deh. :dead: :dead:
Saat istirahat tiba-tiba saja aku bertemu dengan Sakura dan Naruto.
“Sasuke Angel ya… :) “ Tanya sakura tiba-tiba.
“Eh.. kalian.. apa yang kalian lakukan disini.. 8) kenapa bisa kalian disekolahku?” aku bertanya dengan heran
“Kau benar-benar bukan Sasuke :x ” Teriak Sakura tapi aku hanya diam.
“Apa maksudmu? :| ” ucapku perlahan
“Sasuke yang kami kenal tidak seperti mu… :!: kau seperti orang idiot” Tambah Naruto lagi.
“Apa..?? :shock: :x beraninya kau mengatakanku seperti itu?”
“Sasuke tidak akan berteriak dan bertingkah seperti ini.!” Tambah Sakura lagi.
“ Tahu apa kalian.. :x sudah sana pulanglah ke sekolah kalian, lagian untuk apa mencariku ketempat yang sejauh ini? :|
“Kami datang bukan untuk mencarimu, :!: tapi kami disini karena pertukaran siswa, dan inilah hari terakhir kami disini, rasanya senang saat tau Sasuke juga disini :oops: :love: tapi aku kecewa saat Sasuke yang kukenal bukan Sasuke yang dulu lagi :lonely: :dead: ” ucap Sakura.
“Ternyata Sasuke bisa berubah ya.. :omgnooo: apa menjadi malaikat itu menyenangkan.. kenapa.. kenapa dullu Sasuke tidak menunjukkan sosok malaikat Sasuke… :oops: Aku masih menyukai Sasuke sampai saat ini..” Tambah Sakura setelah diam beberapa detik.
“ehh.. Sakura-chan.. :huh: ” Naruto langsung memeluk Sakura.
“Huff.. itu karena selalu melihat kalian berdua yang berlebihan… 8) 8) ” jawabku datar.
“Jadi.. kau juga menyukai gadis itu.. :huh: ” Tanya Sakura lagi.
“Yah.. bukankah dia jauh lebih baik dari mu. :!: :) .”
“A-apa Katamu..?? :x :o kau membandingkanku dengan gadis itu.. Sasuke-khun bukalah mata mu lebar-lebar.. Aku Sakura Haruno.. bukankah aku gadis yang paling cantik di KONOHA.. :oops: dan kenapa bisa, kau tak melihatku T T :( ” sakura benar-benar depresi dengan jawaban yang kulontarkan. :|
“cih.. :twisted: ” menyebalkan sekali mendengar kata-kata gadis itu.. :| udah ahh sebaiknya pergi.
“Kau jahat Sasuke Kun… :x :( kau sama sekali tak mempedulikan aku dan Sakura disini, sudahlah terserah kau saja,,, kuharap hidup mu Menderita..!! :x :!: “ Teriak Naruto.
“Jangan Ngaco deh.. :| ” balasku lagi.
“hari ini kami akan pulang… tapi kau malah sok-sok tak mengenal kami.. KAU KETERLALUAN SASUKE… :x :x TIDAK ADA ANGEL SEPERTIMU… AKU BENCI KAU :x ” teriak Sakura kesal lalu menangis cengeng lagi dihadapan Naruto. :dead:
#Esok Hari
Entahlah keesokan harinya dunia terasa berubah, :dead: aku tak merasakan aura kebaikan di hari ini, tapi yang terasakan malah aura-aura membunuh.
“Sasuke Evill.. Go to the Hell :x :!: ” itulah, kata-kata pertama yang aku dengar di hari ini, :? :dead: apa kau tau siapa yang mengatakannya.. oh tuhan apa lagi yang salah dari hidupku.. :? :x Chizuka yang hamper aku sukai sekarang malah memanggilku Iblis.
“Kau bicara apa? :) ” Tanya ku mencaba tetap tenang.
“Seorang Angel tidak akan meninggalkan teman lamanya, :!: dan seorang Angel tidak akan membiarkan seorang gadis menangis, :!: seorang Angel juga tidak akan berani mengabaikan perkataan orang lain, :!: kau bukan Angel :!: tapi Kau hanyalah iblis :x yang menjelma seperti Angel, iblis sepertimu.. :x tidak boleh dibiarkan hidup!!” :o :shock: :dead:
DUGS!! :dark: :sm: Dan para gerombolan chizu memukuliku.. :luvluv: :aaaaa: :dead: :lonely: :are:
:? HUUAAA… :aaaaa: OKA-CHAN.. APA YANG SALAH DARI HIDUPKU.. KENAPA AKU JADI BEGINI. :are:
Tep…
:dark: Keringat bercucuran dari wajahku.. :smoker: HUhh.. ternyata hanya mimpi… ^^


:hahaha: [align=]GANBATTEE![/align]! :x :D
Image

User avatar
Shiazen
Animac Junior
Animac Junior
Posts: 28
Joined: Fri Oct 24, 2014 8:59 pm
Location: Lifestream
Contact:

Re: Post Fanfic!!

Postby Shiazen » Wed Nov 05, 2014 8:58 pm

Karena sebenernya shiazen itu berasal dari pen-name akun fanfiction: https://www.fanfiction.net/u/2203469/Shiazen

Beberapa fic ada di fb karena gak pede dan yang bahasa inggris grammar ancur

TAPI ADA BEBERAPA YANG PENGEN KUPAMERIN AHAHKAKAKAKAKKAKA //shutup

MADOKA:
[spoiler]Title: A Mournful Rustling in the Dark
Author: Shiazen
Fandom: Puela Magi Madoka Magica
Disclaimer: Madoka is my waifu
Summary: Homura had never comprehended what leaves of memory could do. Homu/Mado.
A/N: I'm kinda stuck with the whole ‘memories’ plot, no matter what fandom. Bet my vocabs won’t expand this way ==. Anyway, this is shoujo-ai~
Words: 965



100 fanfics self-challange day #9


It’s never about forgetting.

It’s what she remembered that was mattered. About what she could recall after so many timelines she had came across, about how many different alternate futures she had brought upon, about how many times, miserable times, she had tried to stop the Walpurgis Night to no avail. It’s particularly about every single time she remembered that girl—her smile, her soft voice, her reassurance that everything was going to be alright—that made her heart clenched as sickening pain vibrated through her airway (she couldn’t breath—she couldn’t do this anymore—) and her teeth gritted from end to end the agony.

It’s hard to make the tears not to flow when you realized how much you had failed.

She remembered every second of it, so crystal clear she thought it’s happened yesterday; the soft exhaling sound when that girl had looked at her with slight smile (she could read the guilt there, how her pink eyes had looked at her with unspoken remorse) as she finally said the words.

“I’m going to be magical girl.”

That was when her world shattered.

Homura’s life was ended the moment Madoka had gone along the compromised wish with her soul as reparation. Everything felt so empty, as if there was a hole—big horrid, ugly hole—that was being dug inside, but she couldn’t do anything about it because the only one who could fill the blank space had disappeared without any chance to come back. And no one but her could do something about it yet she couldn’t think any solution, anything, to change what had happened. Her rewinding time power ceased to be something that couldn’t fix, it had made everything worse instead.

So, she did what she could; cry.

She cried and cried until she couldn’t do it anymore.

.
.

There was a wonder at how she could stand at bay with both her hands itched. It itched so much that she wanted to use her power and start everything from zero again. Right through the beginning, to make a better timeline so that Madoka wouldn’t have disappeared, so that they could be together, at least for one more time. But she couldn’t do it, not when she remembered how much she had tried, and failed, over and over and over. Then again, she barely could stand by remembering that it was Madoka’s wish, and how that wish was also included her request to trust her, to watch and let everything flow to its own accord.

So she did. (Because she trusted Madoka more than anything else, because Madoka was more than anything else.)

“Do you really never hear anything about her?” Homura asked, many times toward anyone that ever made a contact with Madoka. She understood what the incubator had said about how Madoka’s position had shifted into a higher place to the point she couldn’t reach anyone anymore, that no one could remember her anymore. So she tested the idea, because, how much it could hurt her to just simply know?

—except, it was more painful than she thought it would be.

“No. Never heard of her. Who is Madoka? Do you know her, Mami-san?” Sayaka glanced at the girl with blond curly hair.

The older girl tilted her head. “No. But it indeed sounds familiar, somehow. Is she a magical girl too? Maybe from another city?”

“Heh. I’d have known if she is.” Now it’s the red haired girl who spoke, a pocky stick was stuck out from her mouth. “But regretfully, nada. I don’t think I know her either. Is she your old friend or something?”

Those answers obviously made Homura’s lips clamped into a thin line, her fists curled with her effort to hide her frustration. She was just—angry. Very, very angry and mad and sad that words flawed at her (nothing could explain how much she felt about Madoka’s absence, nothing). But she knew better that there was also nothing she could blame everything to, and thus she couldn’t find any object to unleash her wrath at. Not the magical girls, not the witches, not even the incubators who wouldn’t stop invading other planet.

Thus, there was only silence, and then the ice cracked when soft breeze blew against her hair as she turned over and walked away.

“She was more than a friend.”

.
.

Day by day, all the previous determination that everything’s going to be okay—just exactly like she had said—wavered.

Homura told herself that it needed time (it really needed time, she knew, she understood) but every second that had passed brought her back to the awareness that she couldn’t wait anymore. She couldn’t wait and watch everyone with their smiles, played and laughed without knowing how much sacrifices had to be made by Madoka. She smiled bitterly, how one could blame them? No one remembered her, and no one even knew that she’s existed.

It’s even worse than dying.

Partly, she knew Madoka was right. There were no witches anymore, the incubators couldn’t use human souls in their revolting game anymore. But the happiness didn’t stand for everybody, it was only for those who had forgotten about a girl who no one could reach now. Certainly it’s not for her who remembered everything so clearly, because she didn’t want to forget and she wouldn’t.

A pair of purple eyes stared into the night sky, both orbs took the view as wide as it could, and then focused on the biggest shining star—so beautiful, so powerful yet unreachable, no matter how hard she tried to grab it. The dull aches in her chest raised, and she wondered where the salty water in her mouth had came from. Then, softly, a question was asked with a vacillated voice; a question that she knew she would never got the answer—

“Are you happy there, Madoka?”

.
.

FIN


WHAT THE HELL DID I WRITE. Well basically this is about Homura who is mourning about Madoka’s-not-really-death. But even a dead human left memories behind, Urobuchi is horrible. Dan kenapa aku inget Yuuto-nya KR Den-O banget pas nulis ini, mungkin Ryo kalo jadi satu-satunya yang inget tentang Yuuto bakal lebih parah ya //kumat //imnotgomen.[/spoiler]

KAMEN RIDER DEN-O:
[spoiler]Title: More than a Memory to Forget
Author: Shiazen
Fandom: Kamen Rider Den-O
Summary: Ryotaro just couldn’t cope with the idea of disappearing Yuuto. Implied Yuuto/Ryotaro. Post episode 39.
Disclaimer: I own nothing.
Author’s note: YAY FOR RYO AND YUUTO’S ‘DATE’ AT AMUSEMENT PARK. I MEAN, SRSLY.
Words count: 2413



100 fanfics self-challenge day #2

....

Nothing fixes a thing so intensely in the memory as the wish to forget it.

.
.

Sometime things looked impossible to gain despite the desperation of wanting it. The reminiscence of the alternate world Kai had made where no one remembered Yuuto was still bothered Ryotaro, no matter how much he had told himself that everything was alright. Yuuto was alright. In which he knew it was just one of his self-assuring ways, because the moment he knew that nee-san was no longer remembered Yuuto—the Yuuto he knew, not only the now-future Sakurai-san—he couldn’t help but to worry. Even an assuring look from Yuuto wouldn’t convince him.

He knew. He knew and perfectly understood that time was strong and brittle at the same time, that it was also cruel and kind. But nevertheless, he still believed it was something one should cherish the most; hence he couldn’t stand with the idea of sacrificing it, no matter for what reason.

“I said I won’t disappear.”

Ryotaro paused. He could tell there was a glimpse of uncertainty hidden behind that steady voice, although it’s not that he didn’t want to believe it (in fact, he really hoped it to be real) and the other man only took a deep breath as if tired for explaining. But then again, Yuuto was not someone who was honest about himself, and Ryotaro knew it very well. So whatever he said, even if it was a poor excuse of ‘it was for everyone’s sake’, there was always something he would hide. That’s why he still couldn’t accept every speculation that could happen. “Isn’t there any other way so you don’t need to use those cards anymore?”

A snort came after that. “If there is one, I won’t here in the very first place, baka.”

“But—“ Ryotaro glanced at Yuuto, only to see a face full of determination, “—but, it’s not fair.”

It was not fair at all. Not for Yuuto, not for Sakurai-san. It was not fair for nee-san either. And for some reasons, he really didn’t think it was fair for himself who cared deeply about Yuuto. Of course, something had to be sacrificed to gain something new. Zeronos only could be used using the user’s memories. Equality exchange, many of them had said. Even so, even so—

“I’ve said it countless times already; I’m strong and have a good luck. People might forget me, but I’m not going to disappear. What are you so afraid of, anyway? I really don’t get it.” Yuuto said as he aimlessly kicked a can on the road, his gaze followed the object as it was plugged into a big trash can.

Ryotaro contemplated at the question. What he was so afraid of? The awkward silence crept for a moment before he found his voice again. “You.”

Yuuto blinked, caught off guard. “What?”

“It’s you,” Ryotaro reiterated, voice barely above a whisper. His eyes roamed across the sky before glanced back at the other rider. “I’m afraid I would forget you too. Even if that were probably almost impossible, being a junction point and all.”

The wind blew as it was became quiet all over again. Soft breeze brushed against their hair while both the man trapped in their own head, pondering. After all, they were the closest thing they could call each other friend. Ryutaro knew Yuuto had never been considering another person’s feeling in the past, particularly someone who was concerned about his well-being. And when the older man walked past him, Ryutaro couldn’t help but wanted to believe even more at what Yuuto said the afterward.

“You wouldn’t.”

.
.

“I met him, you know—Sakurai Yuuto.” Ryutaro stopped stirring his coffee, his soft eyes slowly turned to stare the man who was sat beside him.

“Oh,” he silently replied, and then gazed down back at the battered black water—implying that he understood what Yuuto had said. It’s Sakurai-san; nee-san’s Sakurai Yuuto. He crooked his neck, head up again. A question came out from his mouth abruptly, “What—” he paused, became hesitant all of sudden, “—what did he say?”

This time Yuuto was the one who turned his gaze away. Ryutaro looked up at what Yuuto stared, and found that it was his sister, smiling gently at the customer she was serving. The realization made his heart broken. Why must two persons he loved dearly in the world had to suffer so much? If only he could change everything. Yet that was the sole reason why they all suffered; a change.

“That I’m not him anymore.” Yuuto finally said after a long silent.

Ryutaro arched his brow, confused by what it had meant. “What do you mean you are not him? You are Sakurai Yuuto. And surely everyone in your own time knows that you are Yuuto, the same Yuuto as what Sakurai-san was in the past. So why—”

“It’s not the same anymore.” Yuuto’s stern voice cut him. After he felt that Ryutaro needed further explanation, he continued, “We—me and him—our time isn’t connected any longer. That I am free to choose on my own now. He said I don’t have to be like him in the future. That bastard.”

Ryutaro cringed at the anger Yuuto shown at the mention of what Sakurai-san had said. He understood that though, for how much Yuuto had tried to keep everything in order, even after knowing what he would become in the future. It’s not easy to pretend that you didn’t care after learned something you’re supposed to not, in normal way of speaking. (But Yuuto was not ‘normal’. Not ever and would never—and Ryutaro knew he understood that much.) Therefore, there was nothing he could say because Yuuto had every reason to be angry.

‘Then stop. Stop doing what you are doing. Stop sacrificing yourself. Stop making people forget about you.’ Ryutaro wanted to say it all aloud, yet nothing of it came past his lips. Instead, he backed down from all his thought and re-stared at the now-stilled water in the cup, didn’t bother with it anymore and let the time flowed in stillness.

.
.

Ryutaro always liked Zero-liner. It was quiet here, unlike Den-liner with all its noisy passengers. He also liked the fact that Momotarosu-tachi’s connection with him was temporarily cut off here thanks to the time gap between the two trains. Nothing could be hurt for a little privacy. Taking a deep breath, he smiled at Yuuto who sat lazily on the nearside seat. “So, what do you need my help for?”

Yuuto grunted with half-pissed face. “Let me tell you this; it was not my idea and I didn’t need your help. It’s Deneb’s,” and since he didn’t get any response from the younger man, he sighed, “It’s the candy. He wants you to help me warp all of them while he is buying groceries.”

A small chuckle emerged from Ryutaro’s mouth. How typical of Deneb, always taken care what Yuuto wouldn’t able to ask due to his ego. And sure enough, Ryutaro could immediately tell how significant his help as he eyed the mountain of candies right on the table. It was simply too much he wondered where Deneb got all these sweet things from. “Ah, I see.”

Yuuto rolled his eyes, “Whatever.”

They started to do their job after that, accompanied by Yuuto’s frequent curses in every five minute about how troublesome all of these, or about how it was supposed to be Deneb’s job not his. Ryutaro only smiled knowingly as a reply.

“What all these candies needed for anyway?” Ryutaro asked after they warped at least a hundred pieces worth of candies.

There was a pause before Yuuto finally answered, “It’s for Deneb’s idea.”

Ryutaro could hear Yuuto’s annoyed mumbling at how expected his question was when he asked what idea it was. Yuuto didn’t plan to ignore his question though, since he actually explained albeit reluctantly.

“It’s to—“ Yuuto cleared his throat, “It’s to make memories. I can’t henshin without people’s memories of me ever since I got the red zeronos card. I don’t like Deneb’s silly idea to make the said memory but I have no other choice. You know how the new card works.”

Upon hearing that, Ryutaro stilled for a moment. His hands stopped tying a ribbon on the red colored warped candy. Red. Of course—of course he knew how those cards worked. And he didn’t like it. Not at all. He didn’t like how those cards erased people’s memories of Yuuto. He didn’t like how nee-san forgotten about Yuuto all over again. And mainly, he didn’t like the possibility of him forgetting Yuuto no matter how small it was. Because if he had actually forgotten, then it meant Yuuto wouldn’t exist, at least not in his memory.

Ryutaro just couldn’t cope with the idea of disappearing Yuuto.

“Why?” Yuuto frowned at his question, didn’t catch what it was supposed to mean. “Why did you act like you are fine with all of these? Like making people forget about you is nothing? I don’t get it. I don’t get it at all.”

Yuuto sighed exasperatedly, “Because I AM really fine with this, okay? Even if no one remembers me, I won’t disappear. I’m used being alone anyway. It’s not like it’s the first time people forgotten about me. Besides, it is my life. I’m free to choose whether or not people should forget about me.”

“No! You are not!” Ryutaro snapped to Yuuto’s and his own astonishment. Realizing how unexpected his outburst was, Ryutaro lowered his tone. “It’s just—you are not ‘choosing’ or ‘making’ people forget about you. You can’t. Not when those people didn’t want to forget about you. It’s more than how it hurt you to be forgotten, it was also how it hurt for those who forgot.”

Yuuto opened his mouth, every inch of his body wanted to despise the idea, but nothing came. In the end, it was silence who accompanied them until they finished warping the candies.

(And when Deneb came back, neither Yuuto nor Ryutaro could answer his question about what had happened while he was leaving.)

.
.

“I don’t know what have you done to make him this upset, but if you do something that made him even more upset, I swear you won’t get away with that.” Momotarosu’s voice echoed through the entire compartment. Everyone was aware how much the imagin cared about his contractor. It’s not only him; everyone in the time train was basically cared too. Right, Ryotaro thought bitterly. Just who could ignore a weak person with a no-end rail track of unluckiness?

It’s probably the zero-liner’s rider who was being blocked at the entrance by Momotarosu.

Yuuto seemed unamused by the red imagin’s taunt as he gritted his teeth audibly. “Look, I’m here to settle things straight, alright? So don’t get in my way.”

“The Great me? Getting in your way? You should be grateful I haven’t kicked your sorry-ass out of here until this moment!” Momotaro growled, offended by the man’s remark. “And by the means ‘to settle things’, what are you exactly gonna do?”

Ryotaro could hear Yuuto cursed in his breath. There was a short pause and Momotarosu was still waiting, he didn’t move even a bit. Yuuto finally gave up and dropped his high and mighty act. “I’m just going to—“ Yuuto bite his lower lip, as if it was really hard to say what he was going to say, “I’m just going to apologize, okay?”

Satisfied with the answer, Momotaro finally moved his way. Yuuto walked in slowly it was almost looked hesitant and fasten his pace as he met with the other imagins’ glare. Yuuto didn’t feel intimidated by that, but it made him uneasy because it remembered him of what had he done. Not far from him, Ryotaro shifted uncomfortably for knowing what would come to him.

“Nogami. We have to talk.” Yuuto said when he finally stood in front of him. His gaze wandered toward the imagins, then back to him. “Alone.”

Looked up, Ryutaro contemplated for a moment but finally nodded with a soft muttering of “okay”.

.
.

Yet again, it was another awkward silence to be passed. The train roared a constant rumbling noise as it crossed the unlimited wide field of time. Colorful sky was visible through the windows with speck of dust lingering on its surface. And after some moments, the horn whistled loudly, forcing both of the man to remember what they were here for. Ryotaro was the first one to speak.

“It’s okay,” he said. “I should have known it was a difficult decision even for you. I’m sorry for being selfish.”

It was expected by both of them that he was going to say the exact line, but what Ryotaro heard—words that came from Yuuto—was something that he had never thought he would hear. “No. You are right, I only acted. I’m not really fine with it.”

Ryotaro stared with a startled face, eyes completely dumfounded. Yuuto groaned at this.

“Look, I was just being an argh back then. I never considered what the other might feel—until now. After what you have said to me. I know I shouldn’t have taken everything so lightly. And for that I—“ Yuuto paused, then fixed his eyes on Ryotaro’s. “—for that, I’m sorry. I’m really sorry.”

Another whistling voice audible as Ryotaro gazed away. “There’s nothing to be forgiven. I also realized that nothing can stop it.”

“That’s right.” Yuuto approved, even though deep down Ryotaro wanted Yuuto to lie just so it could create an illusion where everything was fine. But it seemed Yuuto ceased to surprise him more than once today. “There is nothing—yet. We just haven’t found the way.”

He couldn’t stop himself to smile then. “We?”

“Yeah. It’s your stupid plan to start with,” Yuuto snorted, “and that also means I will stick around more often since you are the crybaby who was scared that I’m going to leave you. Gotta make more memories so it’s too much that it can’t be erased.”

The younger rider saw through Yuuto's eyes, searching for a lie (he was making sure that Yuuto wasn't only pretending). But nothing like that was found there, what had been told to him was pure honest and sincerity.

“Sounds fair to me.” Ryotaro’s smile grew wider, and Yuuto smiled back.

Finally, for the first time after the past few days, the following silence was something that even welcomed by both of them. Ryotaro could relax now that he believed everything would be fine after they came to understand the important part. What left was only the time to find a solution; in which they had more than enough.


FIN

I can't believe I wrote that much. Hooray.[/spoiler]

KAMEN RIDER WIZARD (pt1)
[spoiler]Title: Merubah Arah Kobaran Api
Author: Shiazen
Fandom: Kamen Rider Wizard
Sum: Hanya sekali—hanya sekali Medusa datang untuk menghibur Phoenix yang ditelan api amarah pasca kekalahannya melawan Wizard. Phoenix/ Medusa, post episode 11 .
Disclaimer: I own nothing
A:N: Sebenernya pengen nulis oneshot tapi enakan two-shot aja /o/
Words count: 1365


100 fanfics self-challange day #3

....

“Ada kalanya kita membenci apa yang kita sering takuti.”
—William Shakespeare

.
.

Bagian 1:

Jilatan api membakar dedaunan yang jatuh di jalanan, terlahap sekaligus—meninggalkan ceceran butiran debu yang terhempas angin sore, lalu dalam keheningan kaku, sepasang mata gelap mengamati dengan dingin (begitu bertolak belakang dari seluruh tubuhnya yang seharusnya diselimuti api membara) seolah dari situ dapat terlihat refleksi bayangan apabila helai-helai daun tadi adalah penyihir sialan yang sudah mengacaukan semua rencananya.

Dua kali. Dua kali ia kalah melawan Wizard, dan ia sama sekali tidak senang akan hal itu. Dalam dadanya muncul perasaan tidak suka yang tak lain diakibatkan karena kemampuan si penyihir yang ternyata di luar dugaan, menghancurkan seluruh asumsinya yang menggambarkan kekuatan musuh bak setetes air yang seharusnya tidak mungkin menang melawannya. Namun nyatanya tetes-tetes itu berangsur-angsur membeludak menjadi aliran, hingga cukup untuk memadamkan api, mengalahkannya.

Sebuah isyarat ejekan yang berkata ‘seharusnya kau tidak meremehkanku’. Cih, umpatan pun tidak mampu menggambarkan betapa besar rasa bencinya.

Maka tak perlu menunggu lama untuk mendengar geraman kesal dari phantom dalam wujud pria berambut ikal berantakan dengan kedua telapak tangan terkepal. Hanya keinginan untuk menghancurkan yang kini memenuhi isi kepalanya; rasa ingin meremukkan eksistensi pengganggu yang disebut-sebut sebagai penyihir bercincin—mambakarnya, melihatnya menari dalam jilatan api, dan tentu, mendengar teriakan kesakitan yang tak kalah indah dengan melodi kematian—hingga, akhirnya, ia bisa membuktikan bahwa dirinya, Phoenix, adalah yang tak terkalahkan.

Kemudian pandangan stoik kembali terarah pada sisa dedaunan yang hangus—

—terbakar habis

(Ya. Ia akan tetap bertarung, meski Wiseman mengatakan ‘tidak’.)

.
.

“Kau bertingkah bodoh lagi, Phoenix.”

Jika ada hal lain yang membuatnya terusik selain kalah, maka hal itu menjadi sosok phantom berwujud wanita muda yang tengah berjalan santai ke arahnya, dengan suara ketukan hak sepatu yang mengiringi langkah-langkah konstan. Kali ini rasa tidak sukanya bukan hanya karena ia terkalahkan, namun mau tidak mau harus ia akui untuk kalah dari ‘rekan’ (dengan empasis wanita) sendiri itu lebih memuakkan dibandingkan apapun.

Terlebih lagi Phantom dengan wujud manusia—yang meski ia tidak akan pernah katakan secara gamblang—anggun itu berkali-kali membuktikan dominasinya, dengan deklarasi konkret bahwa ia jauh lebih kuat dari dirinya. Dan sekali lagi, ia benci dikalahkan, jadi ketika phantom wanita itu sudah berdiri sejajar tepat disampingnya, Phoenix hanya menoleh, lalu kembali membuang pandangannya ke tempat lain tanpa sepatah kata pun.

“Kau tidak benar-benar ingin kejadian sebelumnya terulang lagi kan?” Suara di sampingnya itu terdengar lembut, namun penuh intimidasi di saat yang sama. Layaknya ular berbisa.

“Heh,” respon phantom itu pada akhirnya, masih mengenakan topeng acuh-tak-acuhnya, “memangnya bisa seburuk apa kali ini?”

Mendengar itu Medusa diam sejenak dengan air wajah yang tak bisa diterka hingga butuh waktu cukup lama untuk merubah determinasi serius ke senyuman sinis, “Kau tahu sendiri bisa seburuk apa jadinya.”

Phoenix menelan ludahnya seketika. Ingatannya tentang Wiseman tidak pernah bagus; selalu dipenuhi dengan perintah, dan tentu saja, hukuman jika perintahnya dilanggar. Seperti saat ia tanpa sengaja—oh tentu, mengamuk karena emosi itu dapat dinilai tidak sengaja, bukan?—membunuh gate yang potensial. Hukuman yang diberikan padanya melebihi siksaan manapun mengingat kekuatan regenerasinya memperparah keadaan karena dengan itu dipaksalah ia merasakan kesakitan dalam siklus mati-hidup tanpa henti. Memerangkapnya dalam keputusasaan, lagi, hingga sekali dalam hidupnya sebagai Phantom, ia ingin mati saja saat itu.

Tambahan dalam daftar orang yang ia benci; Wiseman.

“Jadi, kau masih ingin merasakan kemarahannya? Aku akan segera mengurungkan niatku kalau jadi kau. Lagipula, ini untuk kebaikanmu sendiri,” ucap Medusa masih dengan nada yang sama.

Akhirnya Phoenix pun menoleh, pura-pura mempertimbangkan dengan intensi memberi jeda secara sengaja, sebelum seringai meremehkan khasnya tersungging, “Demi kebaikanku sendiri, ya? Sejak kapan kau peduli padaku? Atau jangan-jangan kau menaruh hati padaku?” tanyanya mencemooh sambil berjalan ke depan rekannya itu, “Maaf saja ya, aku tidak suka wanita cerewet.”

‘Sesaat’ bukanlah kata yang paling tepat karena cukup lama Medusa mempertimbangkan apa yang dikatakan padanya sebelum akhirnya mengeluarkan nada sarkastiknya sebagai balasan. “Yang benar saja,” ucapnya tenang sambil berjalan pergi, “aku hanya ingin mengingatkan, jika kau mengamuk lagi maka kau akan berurusan denganku.”

Memutar kedua bola matanya, Phoenix mendengus malas, “Terserah.…”

.
.

Ia tidak peduli. Atau setidaknya, ia berusaha untuk tidak peduli. Gertakan bukanlah hal yang biasa bagi Phoenix, dan bertekuk lutut akan dorongan mental tak pernah terbayangkan olehnya. Meskipun begitu, ia tidak terlalu bodoh untuk mengingat bagaimana rasa sakit yang jelas tak terelakan dalam dunia sihir, sekalipun ia abadi. Karena cukup jelas, kekuatannya yang melebihi phantom rendahan biasa jauh lebih kuat (sampai-sampai ia pernah berhasil mengalahkan Wizard sekali) sebenarnya memiliki sebuah alasan.

Ia hanya akan lebih kuat jika menggunakan kemampuan regenerasinya.

—dan Wiseman-lah yang pertamakali menunjukan hal itu padanya. Tepat setelah ia melakukan kesalahan pertamanya.

“Aku tahu kau di situ,” ucap Phoenix tanpa mengalihkan perhatiannya dari bunga-bunga layu di teras apartemen lamanya. Ia memang bukan lagi manusia, tapi terkadang ia hanya ingin ke tempat ini, untuk menenangkan diri. Dan tentu definisi ‘menenangkan diri’ tersebut tidak termasuk dengan phantom wanita yang berdiri di balik pintu masuk, entah apa tujuannya menunggu di situ karena Phoenix menyadari betul kedatangannya tanpa harus melihat.

Medusa lalu membuka objek datar di depannya perlahan dan beranjak masuk tanpa permisi. “Sepertinya kau benar-benar berusaha.”

Sebuah dengusan terdengar. Ada kalanya ia tidak suka betapa transparan dirinya di mata ‘rekan’-nya itu, seperti bagaimana Medusa tahu kapan ia akan hilang kendali saat marah hingga mungkin akan membahayakan gate, atau saat ia benar-benar berusaha untuk tidak hilang kendali yang mana itu lebih susah dari yang ia bayangkan. Sedangkan di sisinya sendiri, tak sedikitpun ia ketahui tentang Medusa selain betapa menyeramkannya ia jika marah.

Phoenix berbalik, hanya untuk melihat Medusa yang kini bersandar di tembok tak jauh darinya. “Aku tidak butuh simpatimu.”

“Dan aku tidak ke sini untuk itu,”—jeda—“tidak sepenuhnya.” Phantom wanita itu berjalan ke arahnya, lagi-lagi dengan suara ketukan sepatu yang menggema ke seluruh isi ruangan.

“Hah.” Ia menggerutu kesal, merasa terganggu. “Kau memang benar-benar menyukaiku ya.”

Hening—tidak ada jawaban atas ejekannya, seperti yang ia duga. Medusa hanya menatapnya dengan tatapan tenang seperti biasa, begitu stoik, tidak terpengaruh dengan cemoohnya. Dan semua terasa semakin hening ketika Phoenix juga sudah kehabisan energi untuk marah (Ia sudah cukup frustasi akan penyihir bercincin itu, dan ia tidak mau menjadi lebih gila lagi). Sayangnya, semakin lama detik berlalu, semakin membuncah perasaan marah di dadanya.

Ia baru saja membuka mulut, hendak berkata sesuatu—apapun—agar bisa keluar dari kesunyian ketika suara Medusa memecah keheningan.

“Bukan hanya kau yang tidak suka dengan penyihir itu.”

Sebagai phantom yang tidak pernah benar-benar memperlihatkan perasaannya secara terang-terangan, apa yang dikatakan Medusa membuat Phoenix terperanjat heran. Mungkin seharusnya ia tidak seheran itu (lagipula, phantom mana yang suka dengan Wizard?) namun itu membuat ia sadar Medusa selama ini hanya lebih terkonsentrasi akan menjaga agar ia tidak hilang kendali daripada memperlihatkan bahwa ia juga tidak suka pada Wizard.

Phantom api itu lantas menatap sepasang mata yang lain, tidak yakin harus berkata apa. “Aku tidak sepertimu.”

Dan Medusa mengerti akan hal ini. Tidak seperti dirinya, Phoenix selalu kesulitan menahan emosi yang menyeruak tiap kali ia marah. Namun tetap saja baginya itu bukanlah alasan untuk menentang perintah Wiseman. “Oleh karena itu aku di sini.”

“Apa? Jadi sekarang kau mengikuti ku kemana saja karena kau tidak cukup percaya bahwa aku bisa mengendalikan diriku sendiri? Bukannya kau yang bilang bahwa aku benar-benar berusaha?”

“Dan kubilang aku juga tidak suka penyihir bercincin itu.”

Hening lagi. Lain kali Phoenix akan berpikir dua kali ketika ia hendak mencoba mengalahkan Medusa dalam hal bicara.

Mengetahui Phoenix tidak akan melontarkan kata apapun dari mulutnya dalam jangka waktu dekat, Medusa kembali menjelaskan. “Yang ingin kukatakan adalah, aku mengerti bagaimana rasanya. Tidak hanya kau yang familiar dengan kebencian. Dan sebelum kau berkata hal bodoh seperti ‘kau tidak mengerti’ atau semacamnya, tidakkah kau sadar posisiku juga sama sepertimu? Hanya sesama phantom yang paling mengerti emosi ini, bukan manusia. Bukan penyihir. Bukan pula boneka yang bergerak karena diisi mana.”

Perhatian Phoenix terpikat pada bagaimana Medusa meggretakkan giginya saat menyebutkan tentang teman wanita si penyihir itu, yang mana itu adalah sesuatu yang baru baginya. Mungkin Medusa benar-benar mengerti yang ia rasakan. Mungkin ia memang harus lebih berusaha. “Jadi, apa idemu? Aku memiliki terlalu banyak waktu untuk diam saja dan itu sama sekali tidak membantuku tenang.”

Jika Phoenix tidak salah lihat, ia berani bersumpah melihat Medusa tersenyum. Sebuah senyuman, bukan seringai yang seperti biasa ia tampilkan. Namun senyuman itu segera hilang dalam sekejap, tergantikan dengan seringai dingin. “Kau pernah berkata betapa aneh manusia dan hal-hal yang mereka sukai kan?”

—dan dengan itu, Phoenix menggeridik ngeri. Ia sepertinya tidak akan suka terhadap ‘ide’ yang hendak diberikan Medusa.


Bersambung
....


Burn the wiiiiiitch //rooting-for-phoenix //dibuang. Btw I lost my touch at writing with my own languange duh. Separo terakhirnya ajur ya.[/spoiler]

KAMEN RIDER WIZARD (pt2)
[spoiler]Title: Merubah Arah Kobaran Api
Author: Shiazen
Fandom: Kamen Rider Wizard
Sum: Hanya sekali—hanya sekali Medusa datang untuk menghibur Phoenix yang ditelan api amarah pasca kekalahannya melawan Wizard. Phoenix/ Medusa, post episode 11 .
Disclaimer: I own nothing
A:N: Dan chapter satu yg h/c berubah jadi agak fluffy di chapter 2. WHY.
Words count: 1647


100 fanfics self-challange day #4

....
Lakukan apa yang kau takuti, dan ketakutan itu menghilang
—David Joseph Schwartz

.
.

Bagian 2:

“Ini bodoh,” gerutu Phoenix, “ini benar-benar bodoh dan seharusnya kau yang berkata seperti ini—bukan aku.”

Hembusan napas malas terdengar, sebuah indikasi bahwa phantom wanita berambut panjang yang tengah berjalan di sampingnya itu tidak tertarik untuk mendebatnya, atau paling tidak menjelaskan pada Phoenix akan apa yang telah terjadi dengan otak sang tangan kanan terpercaya Wiseman tersebut. Sampai detik ini pun ia masih belum percaya bahwa ia benar-benar menginjakan kaki ke suatu tempat tanpa itensi menghancurkan, terlebih lagi mencoba mencegah dirinya sendiri (dengan bantuan Medusa) untuk tidak membakar apa yang ia lewati, dan berhasil.

“Apa masalahmu?” Akhirnya, setelah sekian lama—sebuah respon. “Ini hanya taman hiburan. Kau pernah kemari sebelumnya.”

“Ya, untuk membuat gate putus asa, bukan hanya melihat-lihat. Ini bodoh.”

Medusa tidak menampiknya, “Aku setuju.”

Lantas tak ayal ini membuat Phoenix frustasi. Sungguh, siapa sangka akan ada dua phantom dengan wujud manusianya yang berjalan di tengah kerumunan makhluk-makhluk lemah, dan bahkan berpura-pura menjadi salah satu dari mereka—yang mana itu sebenarnya tidak terlalu asing dalam konteks biasa, namun, ini bukan hanya tentang menyamar, berkamuflase, bersembunyi agar bisa mencari mangsa seperti predator yang selayaknya mereka jalani. Semua ini bodoh, tidak penting, absurd, dan Phoenix kini benar-benar kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan betapa salah tempatnya mereka selain menggumamkan kata ‘bodoh, bodoh, bodoh’ berulang-ulang.

Lagipula, sekali lagi, Medusa-lah pembicara aktif di antara mereka. Tak peduli meski apapun yang dikatakannya selalu berbisa.

“Kalau begitu, lebih baik kau jelaskan apa yang harus kita lakukan di sini. Aku yakin ini bukan perintah Wiseman karena kau jelas-jelas bilang ini idemu.” Nada kesal bercampur ketidak sabaran terdengar. Phoenix berusaha keras untuk tidak berkata ‘ini ide tololmu’ karena berdiam diri selama berabad-abad dalam bentuk batu stoik adalah hal terakhir ia inginkan sekarang.

Sayangnya Medusa tidak peduli dengan itu, dan dengan ekspresi tenang ia berjalan mendekati loket tanpa memerdulikan pertanyaan Phoenix, membuat phantom pria itu semakin ingin kabur, mencari Wizard, dan membakarnya sekarang juga—yang mana tidak akan terkabul karena tatapan dingin Medusa yang seolah berkata ‘diam dan ikuti saja aku’ membuatnya mau tidak mau memasuki area terkutuk dengan balon berterbangan itu lebih dalam.

“Dua tiket untukmu dan pasanganmu, nee-san?” Seorang pria yang tengah bertugas menjadi penjaga loket bertanya, wajah ramahnya menampilkan senyuman terlatih kepada Medusa—dan Phoenix (ia baru saja hendak mengatakan sesuatu tepat setelah ia sadar dari keterkejutannya namun terhalang akan anak ular medusa yang tiba-tiba melingkar di tangannya, memberinya pesan ‘diam dan jangan berbuat apapun atau kau-tahu-apa’).
Yang terjadi detik berikutnya lagi-lagi membuat mulutnya hampir ternganga jika saja matanya yang terbelalak kaget tidak cukup sebagai respon atas apa yang dilakukan Medusa; phantom wanita itu mengeluarkan sejumlah uang dan menukarkannya dengan dua gelang kertas. Phoenix terperanjat sesaat akan beberapa hal yang tidak bisa ia jelaskan sendiri.

Pertama, mereka adalah phantom, dan membeli sesuatu bukanlah hal yang biasa mereka lakukan. Akan lebih mudah jika Medusa menggunakan kekuatannya, menghipnotis manusia itu atau bahkan mengubahnya menjadi batu untuk mengambil tiket tidak berguna itu. Kedua, Medusa bahkan tidak membenarkan perkataan pria itu tentang mereka berdua.

“Oh ya,” Medusa berhenti sebelum menariknya pergi dan berbalik ke petugas tadi, “dia bukan pasanganku.”

—entah Phoenix harus lega atau kecewa sekarang.

.
.

“Apa-apaan itu tadi?” Phoenix bertanya setelah mereka berjalan menjauh.

“Tentang apa? Fakta bahwa aku memberinya uang atau mengatakan bahwa kau bukan pasanganku?”

Phoenix mendengus kesal, terkadang ejekannya pada Medusa bisa menjadi senjata kuat untuk mengoloknya balik, dan itu membuatnya selalu berharap andai saja ia bisa membakar kata-kata. Terutama kata-kata yang terlontar dari phantom wanita ular. “Untuk apa kau membeli dengan uang?”

“Sudah kuduga aku harus menjelaskan ini.” Medusa menggumamkan suara ‘tsk’ di akhir kalimat. “Aku ingin kau belajar sedikit tentang sifat manusia, dan dengan ini kau dapat lebih mudah mencari cara untuk membuat mereka putus asa, tidak hanya menakuti mereka dengan menghancurkan benda-benda.”

“Itu tidak menjelaskan uangnya.”

Kali ini Medusa memutar kedua bola matanya. “Bicara denganmu itu melelahkan, kau tahu itu? Sudah kubilang kita akan mempelajari manusia di sini, di tempat yang begitu ramai dikerumuni makhluk tersebut. Bagaimana caranya kita mempelajari mereka jika mereka berteriak ketakutan dan lari berhamburan?”

Sekali lagi Phoenix terdiam. Ini akan menjadi hari yang panjang.

.
.

Mereka baru saja ada di tempat ini tidak lebih dari sepuluh menit dan Phoenix sudah mulai muak. Ia tidak terbiasa melihat senyuman manusia-manusia, badut-badut bermain bola, anak-anak kecil berlarian ataupun atraksi penyihir jadi-jadian yang mengeluarkan api dari mulutnya. Semua ini membuatnya mengernyitkan dahi, dan pikiran rasionalnya bertanya bagaimana Medusa bisa begitu tenang berjalan di antara manusia-manusia ini tanpa memberikan gerak-gerik merendahkan (seperti ia pada phantom lain pada umumnya) atau berpikir mereka berdua dapat meluluh lantahkan tempat penuh kebahagiaan ini dalam hitungan detik.

Mimpi buruknya berangsung-angsur semakin gelap ketika ia melihat papan nama wahana tujuan pertama mereka.

“Kau pasti bercanda.” Tidak ada jawaban dari Medusa. Ia tidak bercanda. “Kita tidak benar-benar melakukan ini. Kita tidak benar-benar akan menaiki rongsokan itu!”

Medusa memberinya ekspresi datar. “Sayang sekali rongsokan bernama roller coaster itu diminati banyak orang, jadi kenapa kau tidak berhenti memikirkan dirimu sendiri dan mulailah memperhatikan manusia.”

“Tidak, tidak. Terserah kau mau apa, tapi aku tidak akan naik benda konyol dan menyedihkan ini. Lagipula aku—“

“Lihat, wanita itu saja lebih berani dari pada pacarnya yang terlihat menyeramkan.” Suara di belakangnya membuat Phoenix terdiam. Mungkin ia tidak sepintar Medusa, namun ia tahu persis siapa yang dimaksud remaja laki-laki yang tengah mempersuasi gadis di depannya untuk naik ke wahana. Refleks ia menatap remaja yang tak jauh darinya itu dengan tatapan sinis—yang sukses membuat pasangan itu diam dalam sekejap. Mungkin mereka juga tidak berminat menaiki roller coaster lagi, atau setidaknya, tidak dengan Phoenix di mesin yang sama.

Phoenix mengalihkan pandangannya kembali ke Medusa. “Bisa kubakar dia? Aku yakin dia bukan gate, jadi bisakah kubakar dia?”

Sebuah seringai entah kenapa tersungging di bibir merah muda phantom yang ia tanya itu. Phoenix menduga itu karena ia benar dalam menebak bahwa remaja tadi bukanlah gate. Apapun itu, jawaban Medusa tidak membuatnya senang. “Membakarnya dan membuat semua orang lari, membuat tempat ini ditutup, dan membuat uang yang kubayarkan tadi terbuang pecuma?”

“Kau bahkan mengambil uang itu dari manusia. Apa ruginya kehilangan uang curian?”

“Apa kau benar-benar takut menaikinya?”

“Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu berhenti mengeluh dan naik.”

“Tidak, tidak akan.”

“Sudah kuduga kau takut.”

Tentu saja Medusa tahu ia tidak takut. Namun entah ia yang terlalu mudah dimanipulasi atau rekannya yang memang ahli berdesis, pada akhirnya ia menaiki permainan itu—berputar dan melaju dalam kecepatan tinggi, membuatnya merasa konyol karena tanpa alat pun ia bisa terbang di angkasa, bahkan lebih cepat dan dengan liukan yang lebih tajam.

Pada akhirnya, Phoenix harus mengakui menaiki permainan itu tidak begitu buruk. Setidaknya ia bisa mendengar teriakan ketakutan manusia dan hal itu bagai melodi indah di telinganya.

.
.

Mereka mencoba setiap wahana satu persatu. Phoenix yang sebelumnya tidak mau dan menganggap semua ini terlalu bodoh, nyatanya dapat tertarik hingga bersemangat untuk mencoba permainan berikutnya. Mereka mungkin monster, bukan manusia, namun mereka tetap memiliki emosi-emosi yang sama seperti makhluk lain, termasuk manusia. Phantom memiliki loyalitas, mereka juga bisa bangga akan keberhasilan atau marah karena kegagalan. Merasa tertarik akan sesuatu yang baru juga bukan suatu hal yang aneh.

“Aku mulai berpikir kau mungkin diperbolehkan mendekati gate jika gate itu berada di wahana bermain. Mungkin kau akan lebih berhati-hati agar permainannya tidak rusak.” Ini bukan pertamakali Phoenix mendengar Medusa mencemoohnya, namun ini kali pertama phantom wanita itu yang memulai pertama.

“Yah, paling tidak aku hanya dikira ketakutan oleh orang lain, bukan benar-benar ketakutan.” Sebuah seringai terpampang di wajah Phoenix, akhirnya ia memiliki senjata baru untuk melawan kata-kata Medusa, mengingat insiden rumah hantu tadi.

“Kau tahu itu disebut terkejut, bukan takut.”

Dengan itu Phoenix tertawa. “Oh ya? Katakan itu pada tengkorak melayang tadi.”

Medusa memutar kedua matanya, tahu ejekkan itu tidak akan hilang dalam waktu dekat. Kedua tangannya terlipat di depan dada, mengimplikasikan bahwa candaan Phoenix sedikit membuatnya terganggu (bukan salahnya jika ia tidak bisa untuk terus menerus menyembunyikan segala emosi yang ia punyai kan?). Lagipula, sepertinya ia benar-benar berhasil membuat Phoenix melupakan Wizard untuk sementara waktu.

.
.

Matahari tengah di ufuk barat saat mereka keluar dari wahana bermain. Medusa berjalan dengan ekspresi datar seperti biasa, dan di sampingnya, Phoenix mengikuti dengan seringai konyol—seperti biasa juga.

“Jadi, apa pandanganmu tentang manusia sekarang?” Medusa bertanya, masih teringat akan tujuan awal mereka kemari. Atau lebih tepatnya, satu-satunya yang ingat karena Phoenix seketika itu juga meneguk ludahnya. Ia tidak benar-benar memerhatikan apapun selain permainan-permainan yang ia anggap konyol sebelumnya.

“Uh—” Ia berusaha mengingat, karena mungkin ia hanya bermain-main, tapi pengalamannya menjadi pengamat phantom lain dalam melaksanakan tugas membuat kemampuan pengamatannya sedikit lebih tajam dari phantom lain. Jadi pasti ada sesuatu yang bisa ia katakan. “—bahwa mereka bodoh?”

Bukan jawaban yang bagus. Phoenix cepat-cepat membenarkan.

“Maksudku, mereka jelas tampak takut pada permainan di wahana itu, tapi mereka tetap saja menaikinya. Kupikir; apa gunanya melakukan hal yang mereka takuti jika mereka melakukannya sambil berteriak ketakutan?”

Medusa tersenyum mendengar jawabannya, dan Phoenix tidak bisa lebih terkejut lagi hari ini. Kali ini ada dua hal; yaitu bahwa jawabannya benar—ia benar-benar tidak menyangka akan hal ini—dan juga, inilah pertamakali Phoenix benar-benar bisa melihat senyuman itu. Sebuah senyuman anggun yang sebenarnya begitu memesona. Ia tidak percaya telah berpikir Medusa memesona—dan itu menyeramkan. Semua yang terjadi hari ini membuatnya terkejut, dan ia mulai berpikir Medusa jauh lebih menakutkan dari yang ia kira.

Suara tenang phantom wanita yang mengalun perlahan namun tegas kemudian mengalihkan perhatiannya kembali. “Bukankah itu menjelaskan kenapa Wiseman tidak memperbolehkanmu mengamuk atau mendekati gate dengan cara kekerasan?”

“Karena tidak semua gate putus asa karena ketakutan.”

Ekspresi puas terlihat jelas di wajah phantom wanita itu sebelum ia berbalik dan melangkah pergi ke arah yang berbeda, tidak mengucapkan sepatah kata lagi. Namun Phoenix tahu dibalik topeng batu itu sebenarnya ia lebih senang dari yang ia tampilkan. Maka sebelum Medusa benar-benar pergi jauh, ia berteriak ke arah phantom wanita itu dengan senyuman lebar. “Kau seharusnya mengajakku kencan lebih sering lagi!”

—lalu ia segera lari sejauh mungkin dari jarak serang.

SELESAI


Kira-kira ini yang terjadi kalo monster nge date gak jelas ya :'''D mana medusa lebih bossy lagi orz. Ini bukan Phoenix/Medusa, ini Medusa/Phoenix![/spoiler]

ULTRAMAN MEBIUS:
Spoiler: show
Title: Keeping Secrets
Author: Shiazen
Fandom: Ultraman Mebius
Summary: Ada tiga hal yang membuat identitas Mirai sebagai Mebius hampir diketahui, dan satu hal yang pada akhirnya membuatnya tenang akan hal itu. Ep 30.
Disclaimer: I own nothing.
Author’s note: Aku menyerah bikin judul pakai bahasa Indonesia. Entah. Menyerah. Agh.
Words count: 1762


100 Fanfics self-challange day #5

.
.

Mirai tidak tahu apa yang harus dijadikannya alasan apabila ia mendapatkan luka pasca pertarungannya dengan kaijuu—maka yang ia katakan tak lebih dari alasan sederhana seperti terjatuh dari tangga atau tergores saat melewati reruntuhan gedung—meskipun sebenarnya alasan klise sebodoh apapun yang ia berikan sudah cukup untuk meyakinkan kawan se-timnya yang rata-rata beranggapan bahwa ia sama tidak berdayanya dengan seekor anak anjing, yang mana di satu sisi itu membuat ia sedikit sakit hati. Namun jika dibandingkan dengan ultraman lain Mebius memang tidak sekuat saudara-saudaranya.

Dengan kata lain, ia memang lemah.

Mirai menghebuskan napas berat beraromakan depresi sambil menaruh cangkir-cangkir yang sudah terisi kopi ke nampan untuk dibagikan. Masih dengan aura negatif yang terpancarkan lebih jelas dari yang ia kira, member GUYS yang biasanya periang dan bersemangat itu membagikan kopi satu persatu, membuat tiap-tiap orang yang mendapatkannya memicingkan mata tanda heran. Tak ada yang bertanya, tak ada yang berkomentar, sampai akhirnya Ryuu memecah keheningan.

“Pahit! Apa-apaan kopi ini? Heh, kau mau meracuni kami, ya, Mirai?” bentak Ryuu setengah bercanda, membuat suasana semakin canggung. Melihat respon pasif Mirai, Konomi yang khawatir berjalan mendekat untuk menenangkan, namun Goerge tiba di posisi tujuan gadis berkacamata itu terlebih dahulu.

“Kau tahu, kalau kau punya masalah, datanglah kapan saja. Kau sendiri yang mengajariku bahwa menjadi lebih terbuka itu lebih baik, kan,” ucap pria keturunan Prancis itu sambil tersenyum, lalu menepuk bahu kanan Mirai pelan—atau mungkin, tidak sepelan itu karena seiring tepukan tersebut Mirai mengernyit kesakitan sembari cepat-cepat memegangi bahunya dengan tangan kiri, menghasilkan suara ‘klang’ keras dari jatuhnya nampan kosong yang dari tadi ia bawa.

Kini semua orang menatap Goerge dengan ekspresi menakutkan yang meskipun berbeda-beda tetapi tetap mengandung arti yang sama; ‘Goerge, lihat apa yang kau lakukan. Itu salahmu’, terutama Marina yang sepertinya siap menyeburkannya ke dalam laut kapan saja. “T-tunggu! Aku tidak memukulnya sekeras itu!” ucap Goerge membela diri, tidak menyadari Teppei sudah ada di sampingnya.

“Mirai-kun, apa jangan-jangan kau terluka?” tanyanya tenang, observatif seperti biasa.
Mendengar itu Ryuu sontak maju, membuka jaket Mirai paksa, membuatnya terkesan nyaris tergesa-gesa dalam kekhawatiran. Apa yang dilihatnya kemudian membuat tak hanya dia, namun seluruh kru yang ada di ruangan tersebut terkejut. Luka bakar merah menjalar nyaris setengah lengannya mulai dari pangkal bahu hingga siku. Dan tak hanya itu, ada beberapa luka memar di kepalan tangannya.

“U-uh, i-ini…” Mirai kehabisan kata-kata. Alasan sederhana seperti tertabrak sepeda mungkin saja bisa menjelaskan memarnya, namun luka bakarnya? Tidak, mereka tidak sebodoh itu. Bocah itu kini benar-benar kebingungan. Apa yang harus ia katakan? Mengaku bahwa ia adalah Mebius? Bahwa luka bakar itu adalah bekas serangan kaijuu yang dilawannya tadi siang? Kemungkinan yang akan terjadi setelah ia mengataknnya adalah kabur ke planet ultra tanpa kembali ke bumi lagi, atau dibawa ke tempat psikiater karena dianggap berhalusinasi. Dan saat tak ada satupun alasan rasional yang terlintas di benaknya, kapten Sakomizu yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.

“Luka bakar itu… jangan-jangan bekas tumpahan kopi yang tadi kutemukan itu karena ulahmu ya?” tanya kapten Sakomizu tenang. Semua kini menatap Mirai untuk menunggu jawaban.

“E-eh. Itu…” Mirai memandang sekitar dengan gelisah, sebelum kemudian melihat kapten Sakomizu yang mengangguk kecil. “…iya, benar.”

“Huh…. Kau tidak perlu menyembunyikan hal itu. Semua orang kan pernah melakukan kesalahan. Segera ke ruang medis, luka seperti itu harus cepat diobati,” ucap Marina sedikit lega meski dari nada bicaranya ia masih terdengar khawatir.

“Ayo, Mirai-kun. Aku akan mengantarkanmu.” Konomi ikut ambil bagian.
Melihat semua teman-temannya itu, Mirai tersenyum kecil, ‘setidaknya mereka khawatir padaku tidak sepenuhnya karena menganggapku lemah.’

.
.

Ada saat-saat Mirai menyendiri dan berpikir.

Terkadang, sepertinya semua orang menganggapnya seperti alien—yang mana secara teknik itu tidak sepenuhnya salah—karena limitasinya akan pengetahuan-pengetahuan modern, atau bahkan yang pada dasarnya orang anggap sepele. Oleh sebab itu ia mulai lebih berusaha melihat sekitar dan menyerap segala hal baru yang bisa ia dapatkan, agar tidak ada yang benar-benar curiga kalau ia bukan dari bumi. Seperti bagaimana memilih pakaian di luar waktunya saat memakai seragam GUYS, atau kapan harus berpikir dua kali untuk tidak mengucapkan kata-kata yang sekiranya tidak akan mendapat respon positif meskipun ia yakin bahwa yang dikatakannya itu benar (entah kenapa Marina berkata ‘terkadang kau tidak perlu terlalu jujur’).

Namun satu hal yang paling menyulitkannya adalah ketika ia tidak sengaja mengatakan sesuatu terkait kaijuu yang normalnya orang tidak tahu, kecuali orang itu seperi Teppei yang menghabiskan banyak waktu untuk melihat-lihat database komputer sehingga ia berubah menjadi kamus-kaijuu-berjalan. Mirai selalu berusaha bersikap normal, hanya saja ia tetap tidak bisa mencegahnya keluar dari mulutnya, karena semua pengetahuan monster-monster raksasa itu sudah tertanam lekat di otaknya, sama seperti kakak-kakaknya.

“Eh? Kau bilang Miclas itu lebih seperti anak daripada peliharaan?” Marina memicingkan matanya, nada tanyanya jelas memperdengarkan rasa heran meski Mirai tidak yakin mengapa wanita pembalap itu harus begitu heran.

“Ah—aku ingat Mirai-kun juga pernah bilang padaku kalau aku itu seperti ‘ibu’ Miclas, dan itu membuatku bisa mengontrol Miclas dalam pertarungan,” kali ini Konomi yang berkata, “tapi benar juga. Kadang aku heran kenapa Mirai-kun bisa mengetahui semua hal itu.”

Mendengar hal ini Mirai segera mencoba mencari sebuah alasan, namun tidak ada yang bisa ia pikirkan dan ia hanya bisa mengolengkan kepalanya sedikit ke kiri, berpikir.

“Iya, iya! Seperti saat Mirai benar tentang Sadora yang memang berbahaya dan tidak mungkin di pihak kita. Benar-benar seperti maniak Kaijuu,” komentar Teppei—yang dalam sekejap membuat semua mata yang ada di ruangan tertuju padanya. “Apa? Aku salah bicara?”

George hanya memutar matanya—tidak ingin ikut terjerumus dalam kebodohan teman-temannya yang sekarang meledek pria berkacamata itu tentang betapa tidak pantasnya ia menyebut Mirai maniak Kaijin ketika ia sendiri seorang super-maniak kaijin, namun kemudian pria berwajah separuh gaijin itu mengerutkan dahi. “Tunggu. Kalian ada benarnya.”

“Tentang apa? Teppei itu memang kutu-buku-nya kaijin, dan itu bukan hanya ‘ada benarnya’ tapi memang ‘betul-betul benar’.” Ryuu membalas ucapan George dengan nada ketus seperti biasa, ia memang tidak pernah akur dengan pemain sepak bola itu.

Sebuah dengusan kesal terdengar (Marina berusaha mencegah Ryuu agar tidak melontarkan dirinya ke George dan memukulnya saat itu juga) dan George menjawab, “Tentang Mirai, bodoh. Sekarang aku jadi penasaran, bagaimana kau tahu hal-hal seperti itu, Mirai?”

Seluruh crew GUYS lantas mengalihkan pandangan pada Mirai, yang refleks bingung harus berkata apa.

“Ah itu—aku—um, membaca.” Mirai tergagap, berharap teman-temannya percaya.

Dan seperti yang ia duga, mereka memang langsung percaya saja, apalagi setelah Ryuu berkata sesuatu seperti “Tidak aneh. Dia selalu jadi fushigi-chan kan.”—yang dibalas anggukan dan mimik wajah setuju dari yang lain.

.
.

Luka mungkin bisa ia tutupi, pengetahuan mungkin bisa dicarikan alasan. Namun ia benar-benar kehilangan akal jika teman-temannya melihatnya dengan heran dan bertanya, “Kau kemana saja saat Ultraman datang?”

Maka hal paling logis yang bisa dijadikannya alasan menghilang sudah. Ia tidak tahu harus menjawab apa, karena seluruh crew GUYS kini sadar betul bahwa ia selalu tidak menampakkan batang hidungnya setiap kali Mebius datang. Semua menganggapnya sebagai anggota penyelamat yang berdedikasi, dan pergi saat misi jelas akan merusak presepsi teman-temannya—kalau memang tidak sudah rusak sebelumnya. Namun ini berbeda; mereka mungkin menanggapnya sedikit aneh, tapi dianggap tidak layak dalam kelompok ini bukanlah yang ia inginkan.

Selama perjalanannya di bumi, tempat inilah yang menjadi rumah baginya.

Afeksi yang ia punyai bukanlah hal yang main-main, dan kini ia tahu mengapa seluruh bangsa ultra begitu menyayangi makhluk bumi ini. Mereka mungkin lemah, kecil, dan tidak tahu apa-apa tentang luasnya dunia. Tapi di balik kekurangan itu banyak kehangatan yang membuatnya teringat akan satu hal yang selalu ia rindukan—rumah.

"—Mirai-kun?" Suara Konomi memecah lamunannya, membuatnya mau tidak mau harus menjawab pertanyaan yang tidak bisa ia jawab itu. Apakah ia harus jujur sekarang? Ia tidak tahu bagaimana respon teman-temannya jika mereka tahu....

"Uh, aku—sangat mengidolakan Ultraman." Mirai akhirnya menemukan sebuah alasan. "Ryuu-san tahu itu."

Ryuu, yang namanya tiba-tiba disebut, mengalihkan pandangannya ke Mirai. "Ya, tentu. Aku sebenarnya agak terkejut kau hafal lima janji ultra itu. Hanya mereka yang benar-benar suka ultraman yang masih mengetahuinya."

"Ah—jadi setiap kali Mebius datang, kau selalu mencari tempat terjelas untuk melihatnya ya? Oleh sebab itu dulu kau sempat terkena racun Bridon, karena kau terlalu dekat dengan Ultraman saat bertarung!" Marina menyimpulkan, dan Mirai hanya bisa mengangguk, lega lagi-lagi alasannya dipercaya, walau sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sebenarnya tidak ingin berbohong.

.
.

“Kau seharusnya bilang dari awal kalau kau Mebius! Mirai!!!"

Mirai masih bisa mendengar teriakan Ryuu dari kejauhan. Sisanya adalah panas yang menjalar dari segala arah, dan rasa sakit yang menghujam ke seluruh tubuhnya. Berat—semua terasa berat; ia tak lagi mampu membuka kelopak matanya. Namun ia bisa mendengar apa yang Ryuu pikirkan, apa yang sebenarnya ia katakan di balik teriakannya.

Kenapa kau tidak memberitahu seorang pun, dan bertarung seorang diri? Kau sangat lemah, tapi memaksakan dirimu sendiri. Kau bisa saja membunuh dirimu sendiri kapan saja!

Semua itu begitu jelas, juga dengan rasa bersalah Ryuu ketika menyadari Mirai adalah Ultraman, mengingat ia sering berasumsi akan hal-hal yang buruk terkait Mebius ketika mereka masih baru di GUYS. Tapi tidak, tak sedikitpun Mirai mempermasalahkan hal itu, dan ia ingin mengatakannya sekeras mungkin. Sayangnya ia sama sekali tidak bisa bergerak seiring kegelapan yang kian mendekatinya, dan menenggelamkannya sepenuhnya.

.
.

Ada begitu banyak spekulasi tentang apa yang akan terjadi setelah identitasnya diketahui. Mungkin mereka akan marah. Mungkin mereka akan kecewa. Mungkin mereka akan mengabaikannya dan tidak peduli. Dan mungkin ia akan kembali, memenuhi permintaan Taro dan pulang ke tanah cahaya. Namun manusia adalah makhluk yang benar-benar di luar eskpetasinya. Mereka tidak memberikan apa yang ia takutkan, namun justru satu hal yang tidak ia sangka akan dapatkan; harapan.

"Mebius adalah salah satu dari kami!"

"Sampai sekarang pun aku tetap ingin melindungi bumi bersama!"

"Aku juga!"

"Aku hanya meminta satu hal padamu—" Suara Ryuu terdengar tegas, membuat Mirai begitu terharu dengan apa yang semua teman-temannya pikirkan, "jangan bawa Mebius pulang!"

Saat itulah Mirai tahu apa arti persahabatan yang sesungguhnya. Tentang apa yang begitu berharga, lebih dari diri sendiri. Itu adalah ikatan, jalinan yang jauh berbeda dibanding apa ia punya dengan kakak-kakaknya. Karena benar memang mereka adalah saudaranya, keluarga, dan ia akan berbuat apapun demi mereka. Namun sahabat-sahabat nya di bumi mengajarkannya banyak hal yang tidak pernah diberitahukan padanya sebelumnya.

Mereka mengajarinya tentang kasih. Mereka mengajarinya tentang toleransi, bagaimana menghargai usaha seseorang. Dan yang paling penting, mereka mengajarinya untuk tidak pernah menyerah—karena cahaya harapan selalu menemaninya selama mereka bersama. Karena ia tidak bertarung sendirian, karena ia mempunyai teman-teman yang menemaninya.

Maka ketika ultraman Taro memperbolehkannya untuk tinggal lebih lama di bumi, Mirai jauh lebih bahagia dari yang ia kira bisa ia rasakan. Segala upaya menyembunyikan identitasnya, atau berbohong untuk alasan apapun, ia membuang semua itu jauh-jauh.

Kini tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan, karena apapun yang terjadi teman-temannya selalu ada untuknya.


SELESAI


Ah aku males ngoreksi. Yang baca sampai akhir hebat :''D


Image
“If you have time to think of a beautiful end, then why not live beautifully until the end?”
— Sakata Gintoki (Gintama)


Return to “:: Artwork+Fanfic”

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest